Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, October 28, 2011

Dia Lebih Bodoh

Dari jarak puluhan meter dari rumah dia berlari dengan sangat bersemangat. Langsung memasuki rumah, membuka sepatu dengan cepat, lalu bergegas ke kamarnya di lantai 2. Tangga beralaskan kayu itu berdenyit keras karena dia menaikinya sambil berlari.


          “aku pulaaang~~” kata Nobita kepada Doraemon seraya menaruh tas sekolahnya di atas meja.
         Nobita yang biasanya selalu pulang dengan raut muka murung entah karena dijahilin Giant dan Suneo atau kesialan lainnya. hari ini raut wajahnya sangat ceria.
         “kelihatannya kamu gembira sekali..” kata Doraemon yang sangat menyadari itu.
         “Hari ini ada anak pindahan dari sekolah lain...”
         “ha ha ha, anak perempuan yang cantik ya?”
         “Bukan, anak laki-laki... sudah itu anaknya pendiam sekali...”

Friday, September 23, 2011

Cerpen #2: Someday I'll Will Be Good Enough

Sewaktu masih SMA, aku menyukai seorang perempuan. sebut saja namanya ABC. tapi aku selalu memendamnya dalam hati. ini wajar, dia punya segalanya, sedangkan aku bukan siapa-siapa. membuatku malu untuk bisa berkata jujur. kau tahu, merahasiakan ini terus, rasanya seperti... umm... ada sakit dari dalam...
tapi dia memberiku semangat. AKU TIDAK AKAN MENYERAH.

###
-Perpisahan Perisai Kesatria-
Waktu berlalu begitu cepat... sejak perpisahan SMA, aku tak melihatnya lagi.

###
aku belajar computer science, mengeksplorasi selusin bahasa pemrogaman dalam setahun.
memberi kontribusi pada banyak software-software open source. dan banyak project-project pribadiku di github menjadi yang paling populer disana.

sampai akhirnya...
###
aku memutuskan merantau ke USA. belajar banyak hal di Silicon Salley, dan banyak bertemu dengan smartest minds di berbagai bidang. sambil melakukan banyak project sangat seru disana.

aku juga membangun starup-ku sendiri, dan salah satunya di akusisi google senilai $ 90,000,000.

perusahaanku bertambah besar dan sukses.
setiap hari, aku luangkan untuk menulis. aku punya situs tersendiri tentang itu. yang pada akhirnya karya-karyaku dibukukan, dan masuk New York Times Best Seller.

###
aku sering mengunjungi berbagai negara, berbicara di depan lebih dari 1.000.000 orang dalam setahun.
dan hasilnya ku investivasikan untuk remaja2 yang akan membangun starup company mereka.

aku membangun badan amal sosial sendiri, berkunjung ke berbagai negara miskin. dan membantu anak-anak untuk bisa tetap bersekolah.


berlari sejauh 15 km setiap hari untuk membuatku tetap bugar. dan komitmen untuk menaikkannya.

juga belajar alt musik, dan melatihnya sesering mungkin. itu sangat menyenangkan.

###
Suatu hari...

saat aku mengecek inbox, seseorang mengirimku email. aku sangat mengenal siapa pengirimnya, Dia, ABC...
kami mengobrol banyak hal, tapii intinya salah satu teman baik dia, dan juga teman sewaktu SMA-ku akan menikah.

"wah, ga nyangka ya udah 7 yahun ga ktmu. tau2 udah banyak yg berkeluarga.." katanya via chat.
"iya, ya... apalagi berkeluarga juga ga jauh sama temen sendiri... haha" balas ku.
"mmm"
"????"
"hehe, aneh enggak sih, kalo tiba2 ngerasa kayak waktu SMA dulu. suka sama orang, tapi malu-malu. cuman bisa dipendem sendiri."
"termasuk lu?"
"kayaknya semua orang pernah gitu deh. emang kamu ga pernah? haha"
"enak aja. pernah lah"
"wkwk... emang sama siapa?"
"rahasia lah. haha"

Tiba-tiba muncul sebuah ide. aku mengirimkan pesan enkripsi dengan public key pribadi. Pesan yg sangat penting.

dia selalu nanya, gimna dia mau men-dekript pesan yg ku kirim, sementara dia tidak punya private key ku. aku menjawab "kalau penasaran, itu tugasmu untuk mencari tahu... hehe"

###
Besoknya, aku pulang ke Indonesia, dan akan menemuinya, aku ingin mengatakan sesuatu. "ngomong... nggak... ngomong... nggak... ngomong gak ya?"

###
"Wah, baru dateng... gimana kabar?" katanya menyambut kedatanganku.

"mmm... aku mau ngomong sama kamu. aku sebenernya udah lama suka ama kamu... tapi aku enggak berani, dan sampai saat ini salah satu yang membuat aku semangat buat melakukan banyak hal, bahkan aku belajar main gitar... itu buat kamu... aku enggak tau apa itu cinta, tapi aku sadari belum lakukan dari dulu adalah bilang kalau... aku suka sama kamu." akhirnya aku berani mengatakannya.

".... sebenernya kamu udah berhasil sejak awal. tau nggak, orang yang aku suka waktu SMA itu orang yang sama ada di depan aku sekarang... tapi..."

Hancur rasanya saat mendengar itu. yang aku harapkan saat itu satu, semoga dia tidak bisa meng-crack pesan enkripsi yang aku kirimkan.

Ekspektasi ku meleset...

setiap malam, dia mencoba berkali-kali...
sampai suatu hari, dia membuat terobosan... dia berhasil.

aku tak bisa membayangkan, saat dia berhasil meng-crack pesannya...

- - - Begin Message - - -
WILL YOU MARRY ME?
- - - End Message - - -

Yang pasti, aku akan merasa sedih.

###
aku belu pernah nonton film korea, tapi hari ini membuatku yakin, kehidupan nyata tak seindah drama di film manapun yang pernah ada.

###

i want to be good enough to make you fell confident
but all things i have are just ordinary
the truth is you still hestitate
you have'nt given me your whole heart
i'm worried that you'll find someone else whom you love too

so i just wish you
just dont confess your love to anyone else
can you wait for me?
the day i'll be good enough (for you)
please give me some time
it probably wouldn't take too long

please wait for me anyway
and i must take it happen
there'll probably be someday
just dont give your heart to anyone else
please wait for me annyway
pelase wait for me
would you please wait  for me?

Saturday, August 20, 2011

Cerpen #1: Tamu Agung

ketika itu semua orang terlihat sibuk, lebih-lebih keluarga kami, ayahku sudah hampir sebulan disibukkan oleh persiapan untuk menerima tamu agung. Orang-orang menyebutnya “Penghulu atau Raja”. Hari itu puncak dari segala kesibukan dibanding hari-hari sebelumnya. Orang-orang di kampungku tampak gembira sekali. Tamu agung itu akan segera datang menyalami semua warga kampung, semua diliputi kegembiraan, hingga diumumkan kalau rumah siapa tamu agung dijamu makan bersama. Agenda penjamuan sengaja dipilih secara acak sebagai surprise bagi para “pencinta”nya, hati dag dig dug kian memenuhi warga desa, apalagi detik-detik pertemuan sebentar lagi akan berdering. Setiap rumah mempersiapkan makanan yang belum pernah dimasak untuk dijamu di hari-hari sebelumnya dalam keluarga. Semua warga desa tiada yang iri, benci, apalagi berkecil hati. Para tamu agung itu seolah milik mereka bersama untuk dijunjung tinggi, dicintai dan disayangi.
         Para tertua kampung dengan pakaian serba indah dan dironai wewangian, lalu berduyun-duyun mereka menjemput sang Raja di dermaga. Hari sudah menunjukkan tanda-tanda berakhir, ditandai akan segera berganti malam, ufuk sudah memperlihatkan merahnya yang akan menenggelamkan sang mentari ke peraduan. Tidak sesosok perahu pun yang nampak mendekat. Suasana semakin hening, hati mereka bertanya-tanya pada waktu yang dijanjikan itu. Para ibu dan anak-anak di rumah sudah siap menerima kabar kedatangannya. Tidak ada HP yang mati saat itu, waktu ditunggu-tunggu bahwa sebentar lagi SMS dari ayah mereka yang menunggu di pelabuhan itu akan segera mengabarkan kalau penghulu kita akan segera menepi.
         Semakin malam, suasana semakin meriah, ramai, riuh dan rasa gembira tiada  tergambarkan. Wangi-wangian tercium di mana-mana, dari anak kecil hingga tua renta. Meunasah-meunasah dan mesjid-mesjid sebagai tempat pertama menyambut kedatangan sang penghulu telah dipenuhi sesak oleh penciptanya. Setiap ada deringan HP, suasana langsung menjadi hening, jangan-jangan ada kabar kalau penghulu sudah disambut oleh tertua-tertua di dermaga.
         Namun malam semakin gelap, gemerincing, air laut di dermaga itu nyaris tak terdengarkan, karena gaduhnya para pencinta yang saling bertanya-tanya. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh secercah sinar nun jauh berlayar di atas garis horizontal laut. “Alhamdulillah”, teriakan puji-pujian kepada Allah membahana di dermaga itu. Ada langsung sujud syukur atas kedatangan penghulu yang dinanti.
         Tanpa pikir panjang, HP yang sudah memanas genggaman pun dinyalakan, SMS pun berhamburan dan bertaburan dikirimkan kepada mereka yang berada di mesjid-mesjid. Semua menyambut dengan gembira, Marhaban… Marhaban… Marhaban… teriakan di mesjid-mesjid semakin bergemuruh, kesibukan semakin memuncak, mempersiapkan pertemuan yang diimpi-impikan dan menunggu gelas-gelas akan berdenting mengikat hati para pencinta untuk tidak lepas menabur cinta, melepas rindu, dan menangis melepas bahagia.
         Begitulah hari pertamanya mereka bermandikan bahagia, melumuri jiwanya dengan cinta dan asmara.
         Bagiku, urusan seremonial tidaklah begitu menarik perhatian, waktu harus dibagi-bagi, jangan sampai larut dalam satu kebahagiaan. Biarlah orang sibuk dengan cintanya, aku punya kesibukan lain yang harus kuselesaikan, ada tanggung jawab yang mesti kuperhatikan, dan ada orang-orang yang harus kulayani sebagai pekerja social.
         Sekedar sesuatu yang harus menghormati, aku telah melakukannya, telah mempersiapkan sesuatu seadanya, dan telah menyambutnya secara bersama-sama. Walaupun aku tahu, bersama-sama dengan “Raja” yang diagungkan jauh lebih  bermakna dari keperluan pribadi kita, namun pikiran itu kutepis begitu saja, mungkin karena perasaanku mengatakan kalau hubunganku dengannya memiliki jarak dibandingkan dengan orang-orang lain yang menyambutnya, rasanya begitu besar penghalang yang membatasi sehingga cintaku sulit menyatu dengannya. Dan kutahu, orang lain juga merasakan hal yang sama. Namun mereka lebih cenderung memaksa diri merebut hati sang Raja yang penuh kasih saying itu.
         Sama sekali bukan watakku untuk senantiasa, luluh di hadapan meskipun dia seorang raja, sehingga kuputuskan bahwa cukup di lain waktu saja aku menyirami cinta yang belum pernah tumbuh ini. Hari-hariku kulalui sebagaimana adanya, walaupun agak berseberangan dengan teman-teman yang lain yang fanatic tulen.
         Hari pun berganti, saat perpisahan pun kini tinggal satu hari lagi, aku merasa tidak enak karena terlalu lama menjauhi mereka, akhirnya kuputuskan untuk bergabung. Kupersiapkan sesuatu yang diperlukan untuk malam besok sebagi malam yang haru dan sendunyawarga desa.
         Esoknya setelah shalat Isya, sang Raja pun berpidato. Dalam pidatonya, ia menyampaikan ucapan terimakasih kepada orang-orang yan telah melayaninya.
         “Saudara-saudaraku hamba Allah Rabbul Izzati. Sudah sebulan aku bersamamu, aku ketahui bagaimana hatimu padaku, bagaimana cinta dan sayangnya engkau padaku, engkau tak pedulikan keter-usik-an tidurmu, malam-malammu engkau habiskan untuk menemaniku, engkau kini menangis karena takut akan perpisahan seperti ini terjadi, engkau sabar atas segala pekerjaan yang aku pikulkan padamu, sehingga begitu terasa cintaku mekar untuk kusemat di setiap keberadaanmu, begitu juga yang lainnya, engkau semua adalah milikku, wahai saudaraku”.
         “Insya Allah tahun depan kita akan kembali bersama merajut cinta lagi, tunggulah aku bersama rindumu, untuk kita nikmati kebersamaan terindah seperti ini. Jika umur kita panjang, tentulah gelas ini akan berdenting kembali merayakan kemenangan gemerlapnya cahaya yang menghiasi jiwa kita untuk saling memadu cinta”.
         “karena itu, sebagai Raja, aku akan menghadiahi engkau semua. Mintalah apa yang engkau inginkan, niscaya aku akan berikan”, lanjut sang Raja.
         Tiba-tiba di antara kerumunan itu, berdirilah seorang temanku dengan wajah lusuh diderai air mata, diliputi sedih dan dirundung rindu, lalu berkata : “wahai kekasihku, tiada lebih baik bagiku engkau tinggalkan sesuatu untukku, cukuplah cintamu saja agar engkau timpakan pada setiap rinduku. Sebagai bukti cintaku padamu, dan bukti cintamu padaku, izinkan aku memelukmu erat-erat karena aku sangat takut… takut takkan bertemu engkau lagi”.
         Dan bergegaslah ia menghampiri sang Raja yang bijaksana, dengan air mata kian bercucuran. “Aku telah memiliki dirimu oh kekasihku… “. Desisnya layu, seraya memeluknya erat-erat dan sang Raja memandangnya dengan pandangan penuh cinta, sehingga para hadirin terkesima dan turut meneteskan air mata pula.
         Dan satu-persatu para hadirin menghampiri sang raja, dan mengatakan bahwa mereka semua juga menginginkan hal yang sama, yaitu Cinta… tidak lebih. Satu demi satu berdiri dan menghampiri sang Raja, lalu memeluk dan menciumnya dengan pelukan dan ciuman penuh cinta dan kasih saying, begitu juga sang raja tanpa melepaskan kesempatan yang haru itu. Semua cinta milik mereka, semua suka dan duka milik mereka, untuk mereka nikmati bersama.
         Giliran selanjutnya jatuh di tempat dimana tempat dudukku, dan aku bangun dengan hati yang kecut, kecil dan cinta yang kunodai. Kupeluk erat-erat sang Raja, dan ia membalasnya juga, lalu ia memandangiku dengan pandangan penuh cinta juga, tapi aku merasa sangat malu, aku sembunyikan wajahku di antara jubah-jubahnya yang semerbak wangi dan bersih. Air bening itu keluar menetesi jubah sang Raja, pilu, sedih, menyesal seakan memenuhi pori-poriku. Pelukan itu adalah pelukan yang belum pernah kurasakan, yaitu pelukan yang lembut dan kasih saying. Berjuta-juta perasaan hadir disana, membayangkan begitu berartinya pertemuan di akhir perjumpaan ini. Namun alangkah menyesalnya selama ini kelembutan belaian yang penuh cinta itu telah banyak direbut orang.
         Sudah terbagi. Andai kata semua kelembutan dan cinta itu utuh ku miliki dari awal pertemuan itu. Saat dentingan gelas jamu makan dulu aku menyambutnya, sungguh sangat berarti hidup ini. Tiada pilihan lain selain kuucapkan selamat jalan…
         “Selamat jalan… selamat jalan… selamat jalan…”, ucapku lembut, lirih, pilu.
         “Selamat jalan wahai Raja segala bulan, wahai penghulu segala bulan, SYAHRUR RAMADHAN”.

(Samsudin, 12 sep 08 M/12 Ramadhan 1429 H)