Friday, October 28, 2011

Dia Lebih Bodoh

Dari jarak puluhan meter dari rumah dia berlari dengan sangat bersemangat. Langsung memasuki rumah, membuka sepatu dengan cepat, lalu bergegas ke kamarnya di lantai 2. Tangga beralaskan kayu itu berdenyit keras karena dia menaikinya sambil berlari.


          “aku pulaaang~~” kata Nobita kepada Doraemon seraya menaruh tas sekolahnya di atas meja.
         Nobita yang biasanya selalu pulang dengan raut muka murung entah karena dijahilin Giant dan Suneo atau kesialan lainnya. hari ini raut wajahnya sangat ceria.
         “kelihatannya kamu gembira sekali..” kata Doraemon yang sangat menyadari itu.
         “Hari ini ada anak pindahan dari sekolah lain...”
         “ha ha ha, anak perempuan yang cantik ya?”
         “Bukan, anak laki-laki... sudah itu anaknya pendiam sekali...”

         “lalu apa yang membuatmu gembira?” Doraemon keheranan.
         “kalau aku, dari 5 kali ulangan 1 kali pasti dapat nilai 0.” Nobita berdiri di dekat jendela, memandang langit. Lalu berbalik menghadap Doraemon dengan wajah secerah langit itu, “eh! ternyata anak itu, mendapatkan nilai nol 3 kali dari 10 kali ulangan. larinya lebih lamban dari aku, juga tak kuat mendaki tanjakan. Waah! menyenangkan sekali. ternyata di dunia ini ada juga yang lebih bodoh dari aku.” Jelas Nobita panjang lebar dengan mimik wajah sama seperti orang baru saja memenangkan lotre 10 juta.

         Doraemon memasang tampak heran, dia memutar-mutar bola matanya . Belum Doraemon selesai menelaah pola piker Nobita, di ruang depan mereka kedatangan seorang tamu.

         “Ada Nobita bu?” tanya bocah seumuran Nobita kepada Ibu Nobita.
         “Waah, si Tame datang!” Seru Nobita seraya menuruni tangga dengan terburu-buru.
         Nobita langsung menarik tangan Tame lalu bergegas masuk ke kamarnya.
         “Aku berjanji untuk mengerjakan pr sama-sama.” Kata Nobita menjelaskan kedatangan Tame kepada Doraemon.
         “Iya.”  Tame agak malu-malu.
         Mereka mulai menggores pensil di buku untuk menuangkan jawaban yg mereka pikirkan. Belum lama mereka melakukan aktifitas belajar bersama itu, Nobita berseru,
         “kita selesaikan pr ini segera, lalu kita pergi main yuk...”
         “aku tak bisa mengerjakannya cepat-cepat, aku kan lamban.” Kata Tame samil menggaruk kulit kepalanya yg tidak gatal.
         “Tapi, mau belajar saja sudah bagus kok…” kata Doraemon, bijak.

         Sekitar 20 menit kemudian…

         “aku sudah selesai satu soal. kita cocokkan jawabannya yuk!” Nobita beranjak dari duduk memegang bukunya. Nobita melhat pr yang sedang dikerjakan Tame.
         “Eeh! belum selesai juga?!” Nobita pura-pura terkejut.

         “Tak boleh begitu Nobita, setiap orang punya kecepatan yang berbeda.” Doraemon membela Tame, agak jengkel dengan kelakuan Nobita.


          “Jawabanmu salah. payah, masa soal semudah ini saja kamu bisa salah... iya kan doraemon?!” lagi-lagi Nobita meledeknya.


         Tame masih menulis, mengerjakan pr nya. Sekali-kali ia menggaruk kepalanya dan menghapus keringat di dahinya. Kebingungannya menemukan jalan buntu, lalu bertanya,
         “Nobita, soal yang ini bagaimana caranya?”
         “ada yang kamu tak mengerti ya? kalau yg itu... hm... eng...” Nobita agak susah menjelaskan. Tame banyak menanyakan bagaimana cara mengerjakan pr itu, sehingga membuat Nobita risih. “kamu harus berpikir sendiri dong!!!” Nobita berkata akhirnya.  “kalau kamu bergantung sama orang terus kapan bisanya?!”

…  
         Tame masih serius mengerjakan pr-nya. Sementara Nobita sudah tidur-tiduran, padahal pr-nya juga belum selesai.
         “capek ah…” kata Nobita sambil memandang langit-langit kamarnya.
         Doraemon yang sedari tadi sibuk duduk dan membaca komik, kini menghampiri Nobita. “Bagaimana kamu mau jadi orang sukses Nobita?” Doraemon menarik Nobita untuk bangun. “Kalau pr ini saja kamu malas-malasan membuatnya?! Ayo kerjakan lagi!.”
         Bukan namanya Nobita kalau langsung menerima nasehat orang lain. Bahkan dia mengajak Tame untuk bermain.
         “padahal kan kita belum mengerjakan lebih dari setengah.” Tame mencoba menolak secara halus.
         “kan bisa dilanjutkan nanti malam…”
         Nobita langsung menarik lengan bocah dengan gaya rambut belah tengah itu. Di depan rumah, Tame bertanya, “mau kemana kita?”. Nobita memijit jidatnya sebentar, sejurus kemudian berujar, “kita ke rumah shizuka, yuk...”
         Shizuka sedang menyiram tanaman di pekarangan rumahnya ketika Nobita dan Tame tiba. “Hai Nobita! Tame!” sapa Shizuka. “Ada apa?” setelah Nobita menjelaskan tujuan kedatangannya Shizuka kembali bertanya, “mau main apa?”
         Sambil tersenyum aneh memandang Tame, Nobita berkata “Bagaimana kalau lomba lari?”
         “nggak lucu ah,” kata Shizuka spontan, benar-benar jenis permainan yang tidak dia sukai.
         “Kalau begitu kami berdua saja yang lari... kamu jadi wasitnya, ya?” Ujar Nobita, bersikeras.
         Nobita dan Tame bagai atlit pelari Professional mengambil ancang-ancang. Dan seperti yang diduga Nobita, Hasilnya berbanding terbalik ketika Nobita berlomba lari dengan Giant atau Suneo. Nobita menang.

         “Horeeee! Horeee!! aku menang!!” Seru Nobita sambil menggempalkan tangannya ke langit. Tame hanya terbungkuk diam sambil ngos-ngosan.

         Seperti biasa kegiatan makan malam keluarga Nobi selalu penuh dengan cerita. Kali ini Nobita bercerita panjang lebar tentang Tame.
         “setelah itu kita main game, tapi aku terus menang. ha ha ha.”
         Di kamar ketika hendak tidur pun, Nobita masih saja bercerita tentang dia.
         “dia baik sekali lho, aku mau berteman terus dengannya, ah.” kata nobita sebelum masuk ke dalam futon.
###
         Dua murid itu hanya bisa tertegun lesu mendengar celotehan si guru.
“Sebenarnya kamu itu mau belajar atau tidak, sih? kok bisa-bisanya lupa bawaa buku!! kalian berdiri di luar kelas!” Perintah pak guru.
         Anak yg berkacamata lebar tersenyum lebar, sedangkan yg satunya hanya melangkah lesu.
         “Kamu juga telat ya? makanya aku suka berteman sama kamu”, Nobita memulai pembicaraan setelah cukup lama mereka berdiri di koridor kelas.
         Tame hanya tersenyum tipis, menanggapi kata Nobita.
         “Nah, bagaimana kalau kita bikin perjanjian?!” Nobita tiba-tiba sangat antusias.
         Tame memalingkan mukanya yg sedari tadi hanya melihat lantai ke Nobita. Dia heran.
         Menyadari itu, Nobita menjelaskan hal yg dia maksud. “Misalnya, dapat nilai nol sama-sama dan lupa bawa sesuatu sama-sama terus...”
         “Yah, masa begitu? kalau aku sih maunya bisa dapat nilai 100 dan juga tidak pelupa..”

         Dalam perjalanan pulang sekolah, Nobita terus menggerutu mengingat Tame menolak tawarannya tadi. Bukankah enak jika tidak sendiri saja yg lupa buat pe-er atau telat, pikirnya. “belagu! berani-beraninya menentang aku.”
         “Main Soft Ball, yuk?” Tiba-tiba muncul Giant dan Suneo dari arah belakang.
         “segera kemari setelah kamu simpan tasmu ya...” tambah Suneo.

         Nobita sama sekali tidak berminat untuk ikut main. Alasannya jelas, dia tidak ingin babak belur dipukul karena mengakibatkan timnya kalah nanti. Dia mulai memikirkan alasan untuk menolak ajakan tersebut.

         “Ini pertandingan penting. kalau sampai kamu lakukan sesuatu yang tidak-tidak akan kupukul 30 kali!” Ancam Giant mengingat kecerobohan yg sering ddilakukan Nobita.
         Nobita semakin yakin untuk tidak ikut. Dia tahu bahwa sering melakukan kesalahan.
         “Eh... ah... ng... ha... hari ini... aku ada keperluan sama ibu.” Nobita gelagapan. “ Bagaimana kalau kalian ajak aja si Tame sebagai pengganti aku..”

         “Pertandingannya akan berjalan seperti apa, ya? baru membayangkannya saja, rasanya sudah ingin tertawa.” Nobita langsung menceritakan kepada Doraemon sesampai di rumah.
         Setelah mendengarkan semua cerita yg disampaikan Nobita, lalu Doraemon merogoh kantong ajaibnya.
         “Kamu akan mengeluarkan benda yg menarik?” Tanya Nobita.
         “Video Penukar Peran!!” Seru Doraemon setelah mengeluarkan sebuah benda yg terdiri dari layar tv lcd dan berbagai tombol warna-warni. “Aku merekam mu beberapa waktu lalu.”
         “Apa?” Nobita keheranan.
         Pada layar tersebut nampak Nobita dan Tame, rekaman ketika mereka belajar bersama waktu lalu.
         “Wah... adegan saat aku mengajari cara mengerjakan pr padanya, ya? Hahaha”
         “kita coba tukar peran, ya...” Kemudian Doraemon menekan beberapa tombol di alat itu.
         “Lho, tame jadi aku dan aku jadi suneo?!”
         “Aku akan tunjukkan beberapa gambar lain dengan peran yang sama...”

         Adegan demi adegan berganti. ketika Nobita menertawakan Tame yg tak bisa mengerjakan pr, yang tampak adalah Suneo menertawakan nobita karena tak bisa mengerjakan pr. begitu juga ketika nobita mengajak tame lomba lari. dan menyarankan ke Giant untuk mengajak tame sebagai peganti nobita dalam bermain soft ball.

         “Bagaimana kalau kalian ajak aja si Nobita sebagai pengganti aku?”, terlihat pada layar tersebut Suneo menawarkan Nobita menggantikannya  untuk bermain softball.
         Nobita gemetar, butiran keringat mengucur di dahinya. “Cukup... aku tak ingin melihatnya lagi!” Nobita merasa sangat bersalah kepada Tame. Nobita bangun dari duduknya, lalu berlari keluar
         “Mau kemana?!” Tanya Doraemon. Nobita sudah tidak mendengarnya.

###
         Setiba Nobita di tanah lapang tempat biasa mereka bermain. Giant sedang memarahi Tame karena dia tidak pandai bermain soft ball.
         “Gara-gara kamu ceroboh, maka kita kalah..!” Muka Giant merah saking marahnya. “Bersiaplah!!” Giant menarik kerah baju Tame dengan sebelah tangan dan siap mengayunkan sebelah tangannya lagi.
         Nobita hanya mengintip dari balik pagar kayu. “Do… Doraemon…” Nobita bersuara lirih mengharapkan Doraemon datang membantu. Tapi Doraemon tidak ada di situ.
         “Maafkan aku..” Tame memohon ketakutan kepada Giant
         Nobita datang menghampiri mereka. “Hentikaan!! ini salahku. aku yang menganjurkan kalian untuk mengajak Tame.”


         “Banyak dapat pukulan ya?” Tanya Doraemon menyambut kepulangan Nobita dengan rambut acak-acakan dan memar dimana-mana.






###
         Nobita dan Tame pulang sekolah bersama. Mereka tidak berbicara. Nobita masih canggung untuk mengajaknya bicara. Sedangkan Tame memang anak yg pendiam.
         Sesampai di depan rumah Nobita. “Aku senang bisa punya teman, tapi aku harus pindah lagi”. Tame akhirnya memulai percakapan. “selama ini tak pernah ada orang yang mau menjadi teman sebaik kamu... kamu mau olahraga dan belajar bersama. kadang kamu juga membelaku saat aku dikerjai anak nakal... Aku tak akan pernah melupakanmu!” Kemudian Tame beranjak pergi dengan air mata bercucuran di matanya.

         “Aku jadi malu hati. rasanya kalau ada lubang aku ingin masuk saja kedalamnya,”  kata Nobita kepada doraemon yg telah berdiri di sampingnya.
         “Oh begitu ya?” kata Doraemon seperti menyadari sesuatu.
         Doraemon mengeluarkan mengeluarkan Cincin penembus dinding dari kantongnya, meletakkannya di belakang Nobita. kemudian dia menarik nobita ke dalamnya.
         “Mana ada orang yang menganggap serius perumpamaan, OOII!! angkat aku!”



 ------000-------

Kisah ini diadaptasi dengan perubahan seperlunya dari komik Doraemon vol 23 dengan judul ‘Munculnya Orang Yang Lebih Bodoh Dari Aku’. Hak cipta penuh milik ©Fujiko Fujio.
Cerita: Fujiko F. Fujio, Teks: Nurul Kautsar


Pendapat seorang Kautsar tentang Doraemon:
Menurut saya, alasan mengapa komik/anime doraemon mendapat sambutan begitu hangat dari anak-anak zaman sekarang, yaitu selain karena tokoh Doraemon yang dapat mengeluarkan berbagai macam barang yang unik dari kantong ajaibnya, juga karena tokoh Nobita adalah salah seorang anak yang dapat mewakili perasaan 'anak-anak lelah'. saya yakin anak-anak menyadari hal ini dan beranggapan, bahwa Nobita sebagai peganti diri mereka sendiri.


Nobita adalah anak satu-satunya. dia sebetulnya tidak memiliki teman yang benar-benar dapat dikatakan teman. Giant dan Suneo adalah anak-anak yang suka mengganggunya. Sementara Shizuka adalah anak pandai di kelas yang agak sulit didekati. bagi Nobita yang sendirian, Doraemon adalah sosok teman yang dapat diajak bicara apa saja, terkadang menjadi saudara yang terkadang juga menjalankan peran orang tua Nobita.


Kalau melihat Nobita yang tidur-tiduran sambil telentang dengan santainya, bahkan aku yang bukan anak-anak lagipun seperti menemukan diri sendiri disana.
Jadi mengapa Doraemon pun digemari oleh orang dewasa?  jawabannya adalah karena itu semua.

10 comments:

  1. aku suka doraemon, dari setiap komiknya pasti dpt pelajaran sepele yang penting :)
    kadang2 ada yg mengharukan, tp sekarang udh jarang baca komik...
    nice post btw :D

    ReplyDelete
  2. wooow cerita yg itu kaya ga pernah ditampilin ya di tivi ?
    mengharukan ya. coba punya sahabat sejati seperti doraemon

    ReplyDelete
  3. @Izzatunnisa : iya, betul. di setiap ceritanya pasti adaa suatu makna yg berharga.

    @Nonni : saya sendiri belum pernah nonton cerita yg ini di tipi.

    ReplyDelete
  4. dari kecil saya sudah membacanya (komik) dan menyukai sosok doraemon. saya juga mengoleksi beberapa komik doraemon dan masih terawat :)

    ReplyDelete
  5. Ini cerita yang paling mengharukan dan menjadi favorit gue di doraemon (selain part Makan-makan)

    ReplyDelete
  6. Nice post..

    jika saya ingan tentang doraemon. jadi ingat kejadian tsunami di Aceh dulu. karena pada saat gempa dan kejadian yg mengerikan itu saya lagi nonton doraemon...

    ReplyDelete
  7. mengharukan sekali :')
    kayanya cuma kartun doraemon yang punya makna di dalamnya hehehe :)
    nice post!

    ReplyDelete
  8. Makasih semua yg udah komen yak... :D

    ReplyDelete

Bagi Pembaca yg tidak memiliki Google Account (bukan blogger), bisa anda gunakan format Name/Url. Masukkan nama anda di kolom Name dan masukkan url home Facebook atau TL twitter anda di kolom Url. Terima Kasih.